Seputar Informasi Guru

Implikasi IPS Terpadu

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang Dan Masalah
     Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, model pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial terpadu merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan oleh Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional untuk diaplikasikan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama. SMP Strada Santa Maria 2 tempat penulis bertugas sebagai guru IPS, mulai tahun ajaran 2006/2007 telah resmi melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, maka dalam struktur kurikulumnya terdapat mata pelajaran IPS terpadu.  Oleh karena pembelajaran IPS Terpadu merupakan gabungan antara berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial, yang biasanya terdiri atas beberapa mata pelajaran seperti misalnya : Geografi, Sosiologi/Antropologi, Ekonomi, dan Sejarah, maka dalam pelaksanaannya tidak lagi terpisah-pisah melainkan menjadi satu kesatuan. Hal ini memberikan implikasi dalam beberapa hal, antara lain terhadap bahan ajar dan guru yang mengajar di kelas. Seyogianya guru yang mengajar dalam pembelajaran IPS dilakukan oleh seorang guru mata pelajaran, yakni Guru Mata Pelajaran IPS.

     Di sekolah pada umumnya, dan sekolah di Perkumpulan Strada pada khususnya,  guru-guru yang tersedia terdiri atas guru-guru disiplin ilmu seperti guru Geografi, Sosiologi/Antropologi, Ekonomi, dan Sejarah. Guru dengan latar belakang tersebut tentunya sulit untuk beradaptasi ke dalam pengintegrasian disiplin ilmu-ilmu sosial, karena mereka yang memiliki latar belakang Geografi tidak memiliki kemampuan yang optimal pada Ekonomi dan Sejarah, begitu pula sebaliknya. Maka melalui penulisan makalah dengan judul    “ Implikasi  pembelajaran IPS terpadu dan implementasinya di Perkumpulan Strada  “ penulis berharap bisa menjadi masukan bagi semua pihak yang terkait dengan proses pembelajaran di Perkumpulan Strada, khususnya para Pimpinan yang berwenang membuat kebijakan, yang berguna  sebagai pedoman untuk mengatasi persoalan-persoalan yang timbul berkenaan dengan pelaksanaan model pembelajaran IPS terpadu.

1.2   Tujuan Penulisan Makalah
     Tujuan penulisan makalah ini selain untuk memenuhi syarat kenaikan Pangkat / Golongan bagi penulis di Perkumpulan Strada, juga bertujuan untuk memberikan gambaran, usulan dan sumbang saran kepada Perkumpulan Strada tentang apa yang dirasakan dan dibutuhkan penulis sebagai guru berkenaan dengan implementasi pembelajaran IPS terpadu di Perkumpulan Strada. Harapannya dengan memberikan gambaran, usulan dan sumbang saran, para Pimpinan yang berwenang di Perkumpulan Strada dapat memberikan, paling tidak  semacam pedoman yang berguna untuk :
1)      Memberikan wawasan dan pemahaman tentang pembelajaran terpadu, khususnya panduan pembelajaran IPS pada tingkat SMP.
2)      Membimbing guru agar memiliki kemampuan yang baik dalam melaksanakan pembelajaran terpadu antar disiplin ilmu-ilmu sosial pada mata pelajaran IPS.
3)      Memberikan ketrampilan kepada guru untuk dapat menyusun rencana pembelajaran dan penilaian secara terpadu dalam pembelajaran IPS.
Dengan adanya semacam pedoman tersebut maka pelaksanaan pembelajaran IPS di Perkumpulan Strada, khususnya SMP Strada Santa Maria 2 Tangerang bisa membuahkan hasil yang maksimal.

1.3   Pembatasan Masalah
 Berkaitan dengan pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di Perkumpulan Strada, khususnya di SMP Strada Santa Maria 2 dimana penulis bertugas sebagai guru IPS, ternyata dalam proses belajar mengajar untuk mata pelajaran IPS penulis harus berhadapan dengan materi atau bahan ajar yang belum dikuasai oleh penulis secara optimal khususnya yang berhubungan dengan disiplin ilmu ekonomi dan sosiologi/antropologi karena penulis berlatar belakang disiplin ilmu sejarah dan geografi sosial. Hal ini bisa terjadi karena adanya implikasi dari pembelajaran IPS terpadu yang tidak bisa dihindari tapi harus diatasi sehingga proses pembelajaran tetap akan membuahkan hasil yang baik. Implikasi pembelajaran IPS terpadu akan terjadi antara lain terhadap guru, bahan ajar dan sarana prasarana. Namun dalam makalah ini penulis membatasi permasalahan pada implikasi pembelajaran IPS terpadu terhadap guru dan bahan ajar. Alasan pembatasan  masalah implikasi pembelajaran IPS terpadu hanya pada guru dan bahan ajar karena hal tersebut berkaitan langsung dengan tugas penulis sebagai guru IPS di SMP Strada Santa Maria 2 Tangerang.

1.4 Hipotesis
     Pembelajaran IPS terpadu idealnya dilakukan oleh satu orang guru karena IPS terpadu merupakan satu mata pelajaran meskipun di dalamnya terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Oleh karena itu akan menjadi permasalahan ketika kenyataan dilapangan guru-guru IPS yang ada berasal dari disiplin ilmu tertentu. Misalnya seorang guru IPS yang berlatar belakang disiplin ilmu sejarah tentu akan kesulitan dalam membimbing siswa untuk membangun kompetensinya jika masuk dalam materi atau bahan ajar ekonomi dan geografi. Begitu juga sebaliknya guru IPS yang berlatar belakang disiplin ilmu ekonomi juga akan kesulitan jika harus membimbing siswa untuk materi sejarah ataupun sosiologi/antropologi. Kondisi yang demikian kalau tidak segera diatasi akan mejadi hambatan yang serius bagi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, khususnya pembelajaran IPS di jenjang sekolah menengah pertama. Bagaimana mungkin guru mampu membimbing dan memfasilitasi siswa dengan baik untuk membangun dan mengembangkan kompetensinya jika guru sendiri tidak menguasai materi atau bahan ajar yang akan digunakan siswa dalam proses pembelajarannya. 
1.4  Metode Penulisan
     Berawal dari refleksi terhadap kesulitan-kesulitan yang dialami penulis dalam merancang pembelajaran yang kontekstual dan penguasaan materi yang optimal, ditambah diskusi non formal dengan beberapa teman seprofesi yang juga merasakan hal yang sama, penulis melihat teryata implikasi pembelajaran IPS terpadu begitu luas, sedangkan Perkumpulan Strada sebagai lembaga yang berwewenang membuat kebijakan terhadap  pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu di sekolah tempat penulis bertugas belum memberikan semacam solusi berupa pelatihan, pembekalan maupun pedoman bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran IPS terpadu di sekolah. Kemudian penulis mencoba untuk menguraikan hal-hal sebagai berikut :
1)      Implikasi pembelajaran IPS terpadu.
2)      Pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu di Perkumpulan Strada.
3)      Harapan dan usulan tentang pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu di Perkumpulan Strada.
     Dengan berbekal beberapa refrensi yang  diantaranya diambil dari internet penulis memberanikan diri untuk menuliskan hal-hal tersebut dalam bentuk makalah.


 BAB II
IMPLIKASI PEMBELAJARAN IPS TERPADU

1.      Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial
     Ilmu Pengetahuan Soaial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang disiplin ilmu sosial seperti misalnya : sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi/antropologi dan sebagainya. Disiplin ilmu tersebut mempunyai keterpaduan yang tinggi karena geografi memberikan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sejarah memberikan wawasan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, ekonomi memberikan wawasan tentang berbagai macam kebutuhan manusia dan sosiologi/antropologi memberikan wawasan yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur social dan sebagainya.

2.      Konsep Pembelajaran Terpadu dalam Ilmu Pengetahuan Sosial
     Model pembelajaran terpadu pada hakekatnya merupakan sistem pendidikan yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3). Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajarannya disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran IPS terpadu dapat mengambil topik dari salah satu cabang ilmu tertentu kemudian dilengkapi, diperdalam dan diperluas dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Misalnya topik “Kegiatan Ekonomi Penduduk”. Kegiatan ekonomi penduduk dapat ditinjau dari kondisi fisik-geografi yang tercakup dalam ilmu Geografi. Secara sosiologis, kegiatan ekonomi penduduk dapat mempengaruhi interaksi sosial dalam masyarakat. Secara historis dari waktu ke waktu kegiatan ekonomi penduduk selalu mengalami perubahan. Salah satu keterpaduan yang bisa dilakukan guru (sesuai dengan filosofi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) adalah memadukan Kompetensi Dasar.
     
3.      Implikasi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu
     Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) terpadu merupakan salah satu mata pelajaran yang ada dalam struktur Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada jenjang Sekolah Menengah Pertama.  Sebagai sebuah mata pelajaran yang “baru” tentu belum semua pihak yang terkait dengan pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) khususnya guru, paham akan implikasi atau hal-hal yang terkait dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran IPS terpadu. Melalui penulisan makalah ini penulis mencoba untuk membahas hal-hal yang terkait dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial terpadu tersebut. Hal-hal yang terkait dalam pembelajaran IPS terpadu tersebut adalah :

3.1   Guru
     Oleh karena pembelajaran IPS Terpadu merupakan gabungan antara berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial, yang biasanya terdiri atas beberapa mata pelajaran seperti Geografi, Sosiologi/Antropologi, Ekonomi, dan Sejarah, maka dalam pelaksanaannya tidak lagi terpisah-pisah melainkan menjadi satu kesatuan. Hal ini memberikan implikasi terhadap guru yang mengajar di kelas yakni guru harus mampu menguasai dan mengintegrasikan seluruh ilmu-ilmu sosial tersebut.. Seyogianya guru dalam pembelajaran IPS terpadu dilakukan oleh seorang guru mata pelajaran, yakni Guru Mata Pelajaran IPS. Di sekolah pada umumnya dan Perkumpulan Strada pada khususnya guru-guru yang tersedia terdiri atas guru-guru disiplin ilmu seperti guru Geografi, Sosiologi/Antropologi, Ekonomi, dan Sejarah. Guru dengan latar belakang tersebut tentunya sulit untuk beradaptasi ke dalam pengintegrasian disiplin ilmu-ilmu sosial, karena mereka yang memiliki latar belakang Geografi tidak memiliki kemampuan yang optimal pada Ekonomi dan Sejarah. Begitu pula sebaliknya, guru yang berlatar belakang ilmu ekonomi juga tidak memiliki kemampuan yang optimal pada ilmu sejarah dan geografi. Meskipun demikian pembelajaran IPS terpadu pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan juga bisa dilakukan oleh beberapa guru secara bersama-sama, hal tersebut disesuaikan dengan keadaan guru dan kebijakan sekolah masing-masing. Untuk itu pembelajaran IPS terpadu bisa dilakukan dengan dua cara yaitu : 1) team teaching dan 2) guru tunggal, dimana masing-masing mempunyai kelemahan dan kelebihannya sendiri-sendiri.

3.1.1        Team Teaching
     Pembelajaran terpadu dalam hal ini diajarkan dengan cara team; satu topik pembelajaran dilakukan oleh lebih dari seorang guru. Setiap guru memiliki tugas masing-masing sesuai dengan keahlian dan kesepakatan. Kelebihan sistem ini antara lain adalah:   (1) Pencapaian Kompetensi Dasar pada setiap topik akan lebih efektif karena dalam tim terdiri atas beberapa guru yang ahli dalam bidangnya masing-masing. (2) Pengalaman dan pemahaman peserta didik akan lebih kaya daripada dilakukan oleh seorang guru karena dalam satu tim dapat mengungkapkan berbagai konsep dan pengalaman yang dilakukan dengan berbagai strategi pembelajaran. Kelemahan dari sistem ini adalah : (1) Jika tidak ada koordinasi yang solid, maka setiap guru akan saling mengandalkan sehingga pencapaian Kompetensi Dasar akan sulit tercapai. (2) Pihak sekolah akan kesulitan dalam mengatur jadual pelajaran karena dalam satu mata pelajaran diajarkan oleh beberapa guru sekaligus.

3.1.2        Guru Tunggal
     Pembelajaran IPS terpadu yang dilakukan oleh satu guru merupakan hal yang ideal dilakukan. Hal ini disebabkan karena IPS merupakan satu mata pelajaran yang berdiri sendiri meskipun terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Kelebihan dari pembelajaran IPS terpadu yang dilakukan oleh satu guru adalah : (1) guru dapat merancang skenario pembelajaran sesuai dengan topik yang ia kembangkan dan strategi pembelajaran yang ia kuasai tanpa konsolidasi terlebih dahulu dengan guru yang lain, (2) oleh karena tanggung jawab dipikul oleh seorang diri, maka potensi untuk saling mengandalkan tidak akan muncul. Namun demikian, terdapat beberapa kelemahan dalam pembelajaran IPS terpadu yang dilakukan oleh guru tunggal, yakni: (1) oleh karena mata pelajaran IPS terpadu merupakan gabungan dari berbagai bidang studi, sedangkan guru-guru yang tersedia merupakan guru bidang studi sehingga sangat sulit untuk melakukan penggabungan terhadap berbagai bidang studi tersebut, (2) seorang guru bidang studi geografi tidak menguasai secara mendalam tentang sejarah dan ekonomi sehingga dalam pembelajaran IPS terpadu akan didominasi oleh bidang studi geografi, begitu juga seorang guru bidang studi ekonomi tidak menguasai secara mendalam terhadap materi/bahan ajar sejarah dan geografi begitu dan seterusnya. Selain penguasaan materi, penyusunan dan pengembangan berbagai pengalaman belajar maupun berbagai strategi pembelajaran juga harus dikuasai oleh guru. Masalah ini menjadi sangat penting karena pada dasarnya, semua anak memiliki potensi untuk mencapai kompetensi. Kalau sampai mereka tidak mencapai kompetensi, hal itu bukan lantaran mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu, tetapi lebih banyak akibat mereka tidak disediakan pengalaman belajar dan strategi pembelajaran yang cocok dengan keunikan masing-masing karakteristik individu. Hal ini juga dirasakan oleh penulis yang berlatar belakang pendidikan sejarah merasa kurang optimal dalam penguasaan materi/bahan ajar maupun penyusunan strategi pembelajaran untuk ilmu sosiologi dan ekonomi.

3.2    Materi / Bahan Ajar
     Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar (Ilham Anwar, 2007:3). Bahan ajar memiliki peran yang penting dalam setiap pembelajaran termasuk dalam pembelajaran IPS terpadu. Oleh karena pembelajaran terpadu pada dasarnya merupakan perpaduan dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam ilmu-ilmu sosial, maka implikasinya dalam pembelajaran diperlukan bahan ajar yang lebih lengkap, komprehensif dan mampu memandu siswa dalam membangun pemahaman dan kompetensinya dibandingkan dengan pembelajaran monolitik. Dalam satu topik pembelajaran, dalam hal ini, diperlukan sejumlah materi/bahan ajar  yang sesuai dengan jumlah Standar Kompetensi yang merupakan jumlah bidang studi yang tercakup di dalamnya. Keberhasilan seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran terpadu tergantung pada wawasan, pengetahuan, pemahaman, dan tingkat kreativitasnya dalam mengelola bahan ajar. Semakin lengkap bahan yang terkumpulkan dan semakin luas wawasan dan pemahaman guru terhadap materi tersebut maka berkecenderungan akan semakin baik pembelajaran yang dilaksanakan.  Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang berfilosofi konstruktivisme dibutuhkan sebuah materi/bahan ajar yang kontekstual dan mampu memandu siswa untuk membangun pemehaman dan kompetensinya, sehingga materi yang disajikan hendaknya diikuti dengan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan siswa dalam rangka membangun pemahaman dan kompetensi tersebut (Nurhadi, 2004 : 213).

3.3     Sarana Prasarana
     Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sarana dan prasarana yang harus tersedia dalam pembelajaran IPS Terpadu pada dasarnya relatif sama dengan pembelajaran yang lainnya, hanya saja dalam pembelajaran IPS terpadu memiliki kekhasan tersendiri dalam beberapa hal. Misalnya dalam pembelajaran IPS Terpadu, guru harus mampu  memilih secara jeli media yang akan digunakan, dalam hal ini media tersebut harus memiliki kegunaan yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang studi yang terkait dan mampu membantu siswa dalam membangun pemehaman dan kompetensinya. Dalam pembelajaran IPS terpadu yang berfalsafahkan konstruktivisme sarana prasarana memegang peranan yang sangat penting dan strategis mengingat sumber-sumber belajar yang mampu memberikan pengalaman nyata dan langsung kepada siswa sulit dibawa kedalam kelas. Misalnya, kalau guru ingin meningkatkan pemahaman siswa tentang liku-liku sidang tahunan MPR khususnya tentang cara MPR membuat keputusan atau cara MPR menilai pidato pertanggungjawaban presiden, maka siswa perlu dibawa ke gedung MPR untuk mengamati secara langsung sidang MPR tersebut. Bagaimana dengan siswa yang berada di luar Jawa ? tentu sulit untuk mewujudkannya. Untuk itu guru dalam pembelajaran ini diharapkan dapat mengoptimalkan sarana prasarana yang tersedia untuk mencapai tujuan pembelajaran IPS Terpadu.

 
BAB III
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN IPS TERPADU DI PERKUMPULAN STRADA

1.      Kurikulum
     Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Perkumpulan Strada yang memiliki berbagai sekolah dengan berbagai jenjang mulai tahun ajaran 2006/2007 telah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di semua jenjang dengan berbagai implikasinya. SMP Strada Santa Maria 2 tempat penulis bertugas sebagai guru IPS juga sudah melaksanakan kurikulum tersebut secara menyeluruh baik itu strategi pembelajarannya, perencanaannya, penilaiannya maupun struktur kurikulumnya dimana didalamnya terdapat mata pelajaran IPS terpadu. Namun toh demikian, sebagai Kurikulum baru pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Perkumpulan Strada tentu belum bisa dilaksanakan secara ideal dimana masih ada kendala-kendala yang harus diatasi agar pelaksanaan Kurikulum tersebut bisa optimal. Salah satu kendala yang akan dibahas dalam bab ini adalah implikasi pembelajaran IPS terpadu yang berkaitan dengan guru dan bahan ajar.

2.      Implementasi Pembelajaran IPS Terpadu
     Sebagaimana telah dibahas pada bab sebelumnya, bahwa IPS terpadu merupakan sebuah mata pelajaran yang “baru” tentu belum semua pihak yang terkait dengan pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), khususnya guru paham akan implikasi atau hal-hal yang terkait atau merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran IPS terpadu. Hal ini juga dialami penulis sebagai guru IPS terpadu di SMP Strada Santa Maria 2 Tangerang. Berangkat dari kesulitan penulis dalam menguasai bahan ajar dan menyusun rencana pembelajarannya untuk disiplin ilmu ekonomi dan sosiologi ditambah dengan refrensi yang pernah dibaca tentang pembelajaran IPS terpadu, penulis menyimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu di Perkumpulan Strada, khususnya di SMP Strada Santa Maria 2 belum dilaksanakan secara menyeluruh beserta seluruh implikasinya. Maka dalam bab ini penulis akan mencoba menelaah tentang pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu beserta hal-hal ideal yang masih mungkin dilakukan dibawah koordinasi Kantor Strada Pusat agar pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu bisa optimal.

2.1 Guru
     Pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu yang dilakukan di Perkumpulan Strada menggunakan sistem guru tunggal, artinya bahwa pembelajarannya diampu/dilaksanakan oleh satu orang guru. Sebagaimana telah dibahas pada bab sebelumnya bahwa sistem guru tunggal dengan berbagai kelebihannya merupakan sistem yang ideal dalam pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu.     
     Namun toh demikian sistem ini juga mempunyai kelemahan-kelemahan yang jika tidak diatasi tetap saja pembelajaran IPS terpadu tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Guru-guru IPS yang ada di Indonesia pada umumnya dan Perkumpulan Strada pada khususnya berasal dari  berbagai disiplin ilmu. Berdasarkan pengalaman penulis dan hasil diskusi dengan beberapa teman guru IPS di Strada Cabang Tangerang disimpulkan bahwa guru mengalami kesulitan dalam menguasai materi dan menyusun strategi pembelajaran yang efektif terhadap materi yang tidak sesuai dengan latar belakang disiplin ilmunya. Menurut penulis hal ini merupakan kelemahan yang mendasar yang jika tidak segera dicari solusinya akan menghambat pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu yang ideal. Sampai saat makalah ini ditulis Perkumpulan Strada belum membuat kebijakan yang mengarah pada peningkatan kompetensi guru, khususnya guru IPS terhadap penguasaan materi/bahan ajar maupun penguasaan penyusunan strategi pembelajaran.

2.2 Bahan Ajar
     Seperti pada umumnya sekolah-sekolah yang ada di Indonesia, sekolah-sekolah yang dimiliki Perkumpulan Strada juga menggunakan bahan ajar yang berbentuk buku teks yang berfokus pada penyajian materi. Buku-buku teks yang beredar di pasaran dan juga digunakan di sekolah-sekolah Strada, khususnya SMP Strada Santa Maria 2 meskipun sudah berlabelkan KTSP pada sampulnya ternyata isinya masih didominasi dengan penyajian materi. Padahal seluruh mata pelajaran yang ada dalam struktur Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) khususnya mata pelajaran IPS terpadu, membutuhkan buku teks yang berupa panduan belajar yang berisi kegiatan-kegiatan yang mengarahkan siswa membangun pemahaman dan kompetensinya sebagai implikasinya.
     Satu hal yang menggembirakan dalam hal ini adalah bahwa Perkumpulan Strada mulai menyusun buku teks yang dapat menjawab kebutuhan pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) khususnya mata pelajaran IPS terpadu, yaitu buku teks yang tidak semata-mata berisi sajian materi, tetapi lebih banyak berisi panduan-panduan dan berbagai kegiatan yang mampu mengarahkan siswa untuk berlatih, bekerja dan menemukan/mengkonstruksikan pemahamannya sendiri.

3.      Hal  yang perlu dilakukan
     Implikasi pembelajaran IPS terpadu terhadap bahan ajar yaitu dibutuhkannya bahan ajar yang mampu memandu siswa dalam membangun pemahaman dan kompetensinya. Dalam hal ini di Perkumpulan Strada mulai ada titik terang yakni dengan dimulainya penyusunan bahan ajar (buku teks) yang sesuai dengan falsafah Kontruktivisme. Sedangkan adanya guru yang mampu dengan baik menggabungkan/mengintegrasikan materi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan merancang strategi pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan masih sulit diwujudkan.
     Penulis berpendapat bahwa kemampuan ini yang justru lebih dulu harus dimiliki oleh guru khususnya guru IPS terpadu karena, (a) kemampuan ini akan digunakan oleh guru dalam menjalakan tugasnya sehari-hari sebagai guru IPS terpadu, (b) guru yang memiliki kemampuan tersebut diatas dipastikan mampu untuk menyusun buku teks yang dibutuhkan dalam pembelajaran yang konstruktivistik. Untuk itu yang perlu dilakukan dan menjadi harapan penulis  bahwa Perkumpulan Strada segera mengeluarkan kebijakan yang mampu mengkondisikan guru-guru di Perkumpulan memiliki kemampuan tersebut. Kebijakan yang dimaksud misalnya, (a) membentuk Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau Kelompok Kerja Guru (KKG), (b) mengundang ahli dari luar, baik ahli substansi mata pelajaran untuk membantu guru dalam memahami materi yang masih dianggap sulit atau ahli dalam metoda pembelajaran.
     Jika hal tersebut bisa segera diwujudkan di Perkumpulan Strada, penulis optimis bahwa pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu yang ideal, khususnya di SMP Strada Santa Maria 2 bisa tercapai.

 BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

1.      Kesimpulan
     Terciptanya sebuah pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan tentu merupakan harapan bagi semua pihak yang terkait dengan dunia pendidikan. Perkumpulan Strada sebagai Lembaga Berbadan Hukum yang bergerak di bidang pendidikan maupun SMP Strada Santa Maria 2 sebagai Satuan Pendidikan tentu juga mengharapkan hal yang sama.  Kenyataan di lapangan bahwa hal tersebut (pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan) tidak secara otomatis terwujud meskipun satuan pendidikan sudah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Penulis berpendapat bahwa hal ini terjadi karena :
  •  Belum seluruh implikasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) khususnya implikasi pembelajaran IPS terpadu mampu dilaksanakan oleh Satuan Pendidikan.  
  • Guru IPS yang ada berasal dari berbagai bidang studi ilmu sosial yang berdiri sendiri.  
  • Kemampuan guru untuk menyusun strategi pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan belum optimal.  
  • Belum tersedianya bahan ajar (buku teks) yang benar-benar sesuai dengan KTSP.
     Penulis berkesimpulan bahwa pembelajaran IPS terpadu di Perkumpulan Strada pada umumnya dan SMP Strada Santa Maria 2 pada khususnya akan terlaksana dengan baik bila hal-hal tersebut diatas segera diatasi. Semoga setelah Perkumpulan Strada berhasil menyusun buku teks yang sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), segera disusul dengan peningkatan kemampuan guru dalam menguasai materi dan kemampuan dalam menyusun strategi pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan dengan berbagai cara yang dikoordinasikan oleh Kantor Strada Pusat, sehingga khususnya pelaksanaan pembelajaran IPS terpadu di SMP Strada Santa Maria 2 bisa berhasil lebih optimal.

2.      Saran
     Sebagaimana sudah disebutkan dalam bab pendahuluan, bahwa tujuan penulisan makalah ini selain sebagai prasyarat untuk kenaikan pangkat/golongan guru/karyawan di Perkumpulan Strada juga dimaksudkan untuk memberikan sumbang saran kepada pihak yang berwewenang mengambil keputusan di Perkumpulan Strada guna mengambil kebijakan-kebijakan yang mampu mengkondisikan guru lebih optimal dalam melaksanakan proses pembelajarannya. Berkaitan dengan implikasi pembelajaran IPS terpadu dan implementasinya di Perkumpulan Strada yang sudah dibahas pada bab-bab sebelumnya penulis memberanikan diri untuk menyampaikan harapan dan sumbang saran sebagai berikut :
  • Dibentuk semacam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau Kelompok Kerja Guru (KKG) tingkat pusat.
  • Mendatangkan ahli substansi mata pelajaran dan ahli strategi pembelajaran.
     Harapan penulis dengan kedua hal tersebut kemampuan guru, khususnya guru IPS terpadu dalam menguasai materi/bahan ajar bisa lebih optimal. Selain itu juga penulis yakin bahwa kemampuan seluruh guru yang ada di Perkumpulan Strada dalam menyusun strategi pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan lebih bisa ditingkatkan lagi sehingga benar-benar mampu menjadi motivator dan fasilitator bagi siswa dalam membangun pemahaman dan kompetensinya.

 DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Pembelajaran yang Efektif, Efisien dan Menyenangkan, http://www.depdiknas.go.id
Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Pembelajaran IPS Terpadu, http://www.depdiknas.go.id
Mulyasa, E. 2006 Kurikulum yang Disempurnakan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban. Jakarta: Grasindo

0 Komentar untuk "Implikasi IPS Terpadu"

Back To Top